Senin, 18 Juni 2018

Pengembangan Muatan Lokal Kurikulum 2013 (Bag. 1)

PENGERTIAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN MUATAN LOKAL

A. Pengertian Muatan Lokal

Muatan lokal, sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan bahan kajian yang dimaksudkan  untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya.

Selanjutnya sesuai dengan Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 pasal 2 muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya. Yang dimaksud dengan bahan kajian muatan lokal adalah materi yang bernuansa keunikan dan keunggulan lokal untuk diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain. Sedangkan yang dimaksud keunikan lokal adalah potensi lokal yang memiliki kelebihan tertentu dan menunjukkan jati diri daerah tersebut.

Muatan pembelajaran terkait muatan lokal sebagaimana dimaksud pada pasal 4 ayat (3) Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 dapat (1) diintegrasikan dalam mata pelajaran Seni Budaya, Prakarya, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan; (2) berdiri sendiri sebagai mata pelajaran muatan lokal; dan (3) ekstrakurikuler. Contoh: Kerajinan Batik dapat diintegrasikan pada mata pelajaran Seni Budaya atau Prakarya, dapat pula sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, atau sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Muatan lokal dapat berupa:

a. seni budaya (permainan tradisional, seni tari daerah, musik tradisional, batik, dll.)
b. prakarya (makanan tradisional, kerajinan ukir, kerajinan kulit, kerajinan tenun, dll.)
c. pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan (pencak silat, sepak takraw)
d. bahasa (bahasa daerah, bahasa asing)
e. teknologi (komputer, perbengkelan).

Muatan pembelajaran terkait muatan lokal berupa bahan kajian terhadap keunggulan dan  kearifan daerah tempat tinggalnya. Pembelajaran muatan lokal diharapkan membentuk  pemahaman peserta didik terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya dan memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar dapat:

1. mengenal dan mencintai lingkungan alam, bahasa, seni, sosial, budaya, dan spiritual
di daerahnya;
2. melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

B. Prinsip Pengembangan Muatan Lokal

Berdasarkan Permendikbud nomor 79 tahun 2014, pengembangan muatan lokal perlu  memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:

1. Kesesuaian dengan Perkembangan Peserta Didik

Penyelenggaraan dan pemilihan materi muatan lokal hendaknya memperhatikan
perkembangan (fisik maupun psikis) dari peserta didik. Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang, yakni adanya perubahan dalam struktur, kapasitas, fungsi, dan efisiensi. Perkembangan itu bersifat menyeluruh, misalnya perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, memiliki hubungan satu sama lain. Misalnya perkembangan membaca, meliputi perkembangan otot mata, kapasitas membaca, kemampuan membedakan, perkembangan suara, pengalaman, perilaku sosial, dan emosional.

2. Keutuhan Kompetensi

Substansi kurikulum muatan lokal mencakup keseluruhan dimensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) yang tercermin dalam muatan lokal bahasa, seni budaya, prakarya, pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, serta teknologi. Contoh: Dalam muatan lokal seni musik tradisional diajarkan tentang pengetahuan seni, keterampilan memainkan musik, serta sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter budaya daerah.

3. Keterkaitan dengan Potensi dan Keunikan Daerah

Pengembangan kurikulum muatan lokal mengacu pada potensi dan keunikan daerah yaitu keunikan yang dibatasi oleh wilayah administratif misalnya batik Pekalongan, batik tanah liat Minangkabau, tenun ikat Toraja, Sumbawa, Flores, Timur, Bali, Sintang, ukir Jepara, dan rumah adat Tongkonan di Toraja. Sedangkan keunikan lokal didasarkan pada cakupan penyebaran budaya, seperti Bahasa Jawa, dan Bahasa Sunda. Pengembangan tersebut dalam rangka menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang.
Contoh: penyelenggaraan upacara grebeg Maulud di kraton Yogyakarta. Ritual ini memuat  ritual religius, menarik wisatawan, di dalamnya ada seni gamelan, gunungan, dan lain-lain.

4. Fleksibilitas dalam Jenis, Bentuk, dan Pengaturan Waktu Penyelenggaraan

Jenis muatan lokal yang dipilih oleh satuan pendidikan dan pengaturan waktunya bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi dan karakteristik satuan pendidikan. Contoh: (1) Ritual manten gaya Surakarta, memuat cara berpakaian, pemanfaatan sesaji, penggunaan bahasa Jawa ragam indah, (2) Nyongkolan, tradisi adat dari penari suku Sasak di Lombok, berupa arak-arakan mempelai dari mempelai pria ke wanita diiringi keluarga kerabat mempelai pria, memakai baju adat, menggunakan iringan rebana, gamelan, disertai gendang beleq pada kalangan bangsawan.

5. Kebermanfaatan untuk Kepentingan Nasional dan Menghadapi Tantangan Global

Penetapan muatan lokal berorientasi pada upaya pengenalan, pelestarian, dan  pengembangan potensi daerah untuk kepentingan nasional dan menghadapi tantangan  global. Dengan strategi atau upaya ini peserta didik sebagai generasi penerus akan senantiasa mempertahankan, memperkuat serta meneguhkan nilai lokalitas dalam kehidupan modern. Contoh: pesan moral dalam ungkapan budaya daerah seperti ungkapan Nosarara nosabatutu dari Sulawesi Selatan, artinya bersama-sama kita satu, mar sipature hutana be, bahasa Batak, artinya berlomba membangun daerah, rukun agawe santosa dari Jawa yang berarti bersatu akan menjadi kuat. Pesan moral ini jika dipahami dan dilaksankan oleh peserta didik akan membentuk karakter dalam menghadapi tantangan global budaya individualistik.

6. Apresiatif

Apresiatif terhadap keunikan potensi daerah/satuan pendidikan. Hasil-hasil pembelajaran  muatan lokal memiliki potensi mendapat penghargaan atas keunggulan atau keunikannya di tingkat satuan pendidikan, daerah, dan/atau nasional. Contoh: Penghayatan terhadap legenda, yang memuat nilai kesejarahan dan kearifan lokal, misalnya terjadinya Candi Prambanan di Jawa, terjadinya gunung Tangkuban Perahu di Sunda, terjadinya gunung Batur di Bali, dll.

Download Panduan: (Unduh disini)

Sumber: Panduan Pelaksanaan Muatan Lokal Kurikulum 2013 Jenjang SMP

Baca Artikel lainnya:

Aplikasi Rapor Kurikulum 2013 SMP Tahun 2018
Aplikasi Raport ini dapat memudahkan tugas Guru dalam mengolah nilai dan hasil belajar pada kurikulum 2013.
Aplikasi berdasarkan Panduan Penilaian Kurikulum 2013 untuk SMP Revisi Juni 2017 dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016. Aplikasi support pada Ms Excel 2007 dan Ms Excel 2010 (lebih baik). Aplikasi diformat dengan ekstensi *.exe (Application).
Aplikasi ini dilengkapi dengan: 1. Input Aspek Pengetahuan dengan 8 Kompetensi Dasar 2. Input Aspek Ketrampilan dengan 8 Kompetsni Dasar 3.  Jurnal KI-1 dan KI-2.

Aplikasi Rapor Kurikulum 2013 MI Revisi Tahun 2018
Aplikasi Raport ini dapat memudahkan tugas Guru dalam mengolah nilai dan hasil belajar pada kurikulum 2013.
Aplikasi berdasarkan Panduan Penilaian Kurikulum 2013 untuk SD Revisi Desember 2016 dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016. Aplikasi support pada Ms  Excel 2010. Aplikasi diformat dengan ekstensi *.exe (Application).Aplikasi ini dilengkapi dengan: 1. Input Aspek Pengetahuan dengan 9 Kompetensi Dasar 2. Input Aspek Ketrampilan dengan 9 Kompetsni Dasar 3.  Jurnal KI-1 dan KI-2. 
Kemudahan Aplikasi
Guru hanya input Data Siswa dan Nilai Siswa. Kompetensi Dasar (KD) sudah terintegrasi dalam aplikasi. Deskripsi capaian otomatis muncul, demikian juga deskripsi sikap spiritual dan sikap sosial.

Aplikasi Rapor Kurikulum 2013 SD Tahun 2018
Aplikasi Raport ini dapat memudahkan tugas Guru dalam mengolah nilai dan hasil belajar pada kurikulum 2013.
Aplikasi berdasarkan Panduan Penilaian Kurikulum 2013 untuk SD Revisi Aplikasi ini dilengkapi dengan: 1. Input Aspek Pengetahuan dengan 9 Kompetensi Dasar 2. Input Aspek Ketrampilan dengan 9 Kompetsni Dasar 3.  Jurnal KI-1 dan KI-2. 
Kemudahan Aplikasi
Guru hanya input Data Siswa dan Nilai Siswa. Kompetensi Dasar (KD) sudah terintegrasi dalam aplikasi. Deskripsi capaian otomatis muncul, demikian juga deskripsi sikap spiritual dan sikap sosial.

Output Aplikasi
1. Nilai-Predikat, Deskripsi setiap mapel 
2. Raport UTS  
3. Raport Semester   
4. Daftar Kumpulan Nilai (DKN) per siswa  
5. Daya Serap mapel/kelas  6. Buku Induk Lengkap. 

0 komentar:

Posting Komentar